Mengasuh anak adalah tugas yang menantang, bahkan dalam keadaan yang paling ideal sekalipun. Tambahkan diagnosis seperti Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) atau masalah perilaku lainnya, dan tantangannya berlipat ganda. Namun, banyak orang tua telah menempuh jalan ini sebelum Anda, dan ada banyak panduan yang tersedia untuk membantu Anda menavigasi perjalanan ini.
Apa itu ADHD
Pertama, mari kita pahami ADHD. Ini adalah kelainan medis berbasis otak yang merusak fungsi perhatian dan tingkat aktivitas anak, dengan gejala sering dimulai sebelum usia 7 tahun. Gangguan ini dapat memengaruhi sekolah, prospek pekerjaan, dan hubungan anak.
Ambil Ryan, misalnya, seorang anak berusia 12 tahun yang cerdas dengan kegemaran mencorat-coret. Terlepas dari potensinya, nilainya menukik tajam. Gurunya melaporkan dia melamun dan gagal menyerahkan pekerjaan rumah tepat waktu. Dia berjuang untuk mempertahankan teman dan sering kehilangan barang. Masalah-masalah ini, meskipun tampak biasa, adalah tanda-tanda ADHD.
ADHD adalah kondisi medis yang merupakan singkatan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Seseorang dengan ADHD memiliki perbedaan perkembangan otak dan aktivitas otak yang mempengaruhi atensi, kemampuan duduk diam dan berkonsentrasi atau fokus, serta pengendalian diri. ADHD dapat mempengaruhi seorang anak di sekolah, di rumah, dan dalam persahabatan.
Seberapa jarang ADHD
ADHD bukanlah kejadian langka. American Academy of Pediatrics (AAP) melaporkan bahwa hingga 11% anak-anak di AS memiliki beberapa tingkat ADHD(1). Penting untuk diperhatikan bahwa memiliki ADHD atau masalah perilaku tidak berarti bencana. Banyak orang sukses, seperti Simone Biles, pesenam Amerika paling berprestasi, dan pengusaha Richard Branson, berhasil menang terlepas dari diagnosa ini.(2)(3).
Apa yang menyebabkan ADHD (dan apa yang tidak)
Penyebab pasti ADHD masih agak sulit dipahami, tetapi penelitian telah mengungkap beberapa faktor yang mungkin berkontribusi pada kondisi ini. Memang, ada bukti kuat yang menunjukkan adanya komponen genetik yang kuat pada ADHD. Seorang anak yang memiliki orang tua atau kerabat dengan ADHD berisiko lebih tinggi terkena kondisi tersebut(9).
Selain genetika, faktor risiko lain mungkin berperan dalam perkembangan ADHD. Misalnya, anak yang lahir prematur atau dengan berat badan lahir rendah tampaknya memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami ADHD(10). Selain itu, paparan racun lingkungan, seperti timbal tingkat tinggi, atau penggunaan obat-obatan, alkohol, atau tembakau ibu selama kehamilan dapat meningkatkan risiko.(11).
Namun, penting untuk menghilangkan beberapa kesalahpahaman. ADHD tidak disebabkan oleh menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar, juga bukan akibat pola asuh yang salah. Juga mitos bahwa mengonsumsi terlalu banyak gula dapat menyebabkan ADHD(12). Kesalahpahaman ini dapat menambah stigma dan kesalahpahaman yang mengelilingi ADHD, sehingga penting untuk membahas topik ini dengan informasi faktual.
Dampak pada Tahapan Kehidupan yang Berbeda
Di dalam sekolah, anak-anak dengan ADHD sering kesulitan untuk tetap fokus, menyebabkan nilai yang lebih rendah, tugas yang terlewat, dan kesulitan dalam berteman. Kurangnya perhatian juga dapat menyebabkan masalah dalam mengikuti instruksi, yang mengarah pada pencapaian yang rendah(4).
Maju cepat ke berburu pekerjaan atau mempertahankan pekerjaan, penderita ADHD mungkin mengalami kesulitan karena kinerja yang tidak konsisten, impulsif, dan masalah dengan organisasi. Ini juga dapat menyebabkan masalah emosional seperti rendah diri dan depresi(5).
Di dalam hubungan, ADHD dapat menyebabkan kesalahpahaman. Impulsif dapat menyebabkan mengatakan sesuatu tanpa berpikir, kelupaan dapat disalahartikan sebagai kecerobohan, dan kesulitan mendengarkan dapat muncul sebagai ketidaktertarikan.(6).
Namun, penting untuk diingat bahwa setiap cloud memiliki lapisan perak, dan ADHD tidak terkecuali.
Sisi Positif
ADHD juga dapat memberikan manfaat. Banyak orang dengan kondisi tersebut menampilkan kreativitas, ketahanan, dan kemampuan berpikir di luar kotak(7). Branson, misalnya, memuji ADHD-nya atas jiwa petualang dan pemikiran bisnisnya yang out-of-the-box(3).
Strategi untuk Sukses
Untuk orang tua:
Sebagai orang tua, Anda dapat memainkan peran penting dalam membentuk perjalanan anak Anda. Institut Kesehatan Mental Nasional AS menyarankan strategi berbasis bukti ini(8):
- Pelatihan Perilaku Orang Tua: Orang tua belajar keterampilan untuk membimbing perilaku anak mereka, seperti menetapkan ekspektasi dan konsekuensi yang jelas.
- Manajemen Kelas: Guru menggunakan pujian, kartu komentar, atau sistem token untuk mendorong perilaku positif.
- Pelatihan Organisasi: Anak-anak diajari keterampilan seperti menggunakan agenda, memecah tugas menjadi bagian-bagian kecil, dan menggunakan pengikat berkode warna.
- Pengobatan: Obat-obatan tertentu dapat membantu mengurangi gejala ADHD pada anak-anak. Selalu berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan untuk mendiskusikan manfaat dan risiko.
Dalam beberapa istilah yang lebih praktis, ini adalah 10 hal yang dapat dilakukan orang tua untuk mendukung anaknya yang menderita ADHD atau gangguan perilaku lainnya:
- Tetapkan Rutinitas: Rutinitas harian yang dapat diprediksi dapat membantu anak-anak dengan ADHD untuk mengelola tugas mereka dengan lebih baik dan mengurangi perasaan kacau.
- Gunakan Komunikasi yang Jelas dan Ringkas: Sederhana, instruksi langsung bisa jauh lebih efektif daripada penjelasan panjang.
- Atur Rumah Anda: Buat tempat yang spesifik dan konsisten untuk barang milik anak Anda untuk membantu mereka tetap teratur.
- Dorong Aktivitas Fisik: Olahraga teratur dapat membantu mengurangi hiperaktif dan meningkatkan fokus(13).
- Diet sehat: Diet seimbang dapat mendukung kesehatan dan kesejahteraan secara keseluruhan, meskipun tidak secara langsung menyembuhkan ADHD.
- Pastikan Tidur yang Cukup: Kurang tidur dapat memperburuk gejala ADHD. Tetapkan rutinitas tidur yang konsisten(14).
- Memberikan Umpan Balik Positif: Penguatan positif dapat memotivasi anak untuk mempraktikkan perilaku yang baik(15).
- Tetapkan Ekspektasi dan Konsekuensi yang Jelas: Buat struktur dan batasan untuk membantu anak Anda memahami konsekuensi dari tindakan mereka.
- Dukungan dengan Pekerjaan Rumah: Memecah tugas menjadi bagian-bagian yang dapat dikelola dan memberikan dukungan bila diperlukan.
- Carilah Bantuan Profesional: Terapi perilaku, psikoedukasi, dan, dalam beberapa kasus, pengobatan dapat bermanfaat.
Untuk Orang dengan ADHD:
Dan inilah beberapa yang praktis hal-hal yang dapat dilakukan oleh penderita ADHD untuk mengelolanya:
- Buat Struktur: Cobalah untuk mengikuti rutinitas yang memanfaatkan waktu produktif Anda sebaik-baiknya.
- Hancurkan Tugas Besar: Tugas-tugas besar bisa tampak luar biasa. Hancurkan mereka menjadi bagian-bagian yang bisa diatur.
- Gunakan Alat untuk Tetap Teratur: Pertimbangkan untuk menggunakan kalender, perencana, atau aplikasi digital untuk melacak tanggung jawab.
- Latihan rutin: Aktivitas fisik dapat membantu mengelola gejala ADHD(13).
- Teknik Perhatian dan Relaksasi: Aktivitas seperti yoga, meditasi, atau pernapasan dalam dapat membantu meningkatkan fokus dan mengurangi impulsif(16).
- Diet Sehat dan Tidur: Pastikan diet seimbang dan banyak istirahat. Keduanya dapat berdampak pada suasana hati dan tingkat energi Anda secara keseluruhan.
- Mencari Dukungan: Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Terapis, pelatih, dan kelompok pendukung dapat memberikan strategi dan dorongan.
- Melayang Menuju Kekuatan: Orang dengan ADHD sering unggul dalam tugas-tugas kreatif dan dinamis. Temukan apa yang Anda kuasai dan sukai, dan kejarlah.
- Welas Asih: Pahami bahwa tidak apa-apa mengalami hari-hari buruk. Bersikap baik kepada diri sendiri.
- Advokasi untuk Diri Sendiri: Pelajari kondisi Anda dan jangan takut untuk meminta akomodasi di sekolah atau tempat kerja.
Meskipun ADHD memang menimbulkan tantangan, dengan strategi dan dukungan yang tepat, orang dengan ADHD dapat menjalani hidup mereka dengan sukses, memanfaatkan kekuatan dan kemampuan unik mereka untuk keuntungan mereka.
Mari kita lihat kembali Ryan. Orang tuanya bekerja dengan gurunya untuk membangun sistem token untuk perilaku yang baik dan penyelesaian tugas. Di rumah, mereka menetapkan ekspektasi yang jelas untuk waktu pekerjaan rumah. Ibunya mendaftarkannya di kelas seni, menyalurkan kecintaannya pada corat-coret ke dalam aktivitas yang terstruktur dan bermanfaat. Perubahan ini tidak mengubah Ryan dalam semalam, tetapi seiring waktu, nilainya meningkat dan dia mulai berteman.
Anak Anda, seperti Ryan, dapat menjalani kehidupan yang memuaskan dengan ADHD. Ingat, ini bukan tentang memberantas diagnosis, tetapi tentang mengajari anak Anda untuk berkembang meskipun demikian.
Kesimpulannya, menangani ADHD atau masalah perilaku lainnya tidaklah mudah, tetapi dipersenjatai dengan pengetahuan dan strategi yang tepat, Anda dapat membantu anak Anda mengubah batu sandungan potensial menjadi batu loncatan.
_________________________________________
Sumber:
(1) AAP. (2020). “ADHD: Clinical Practice Guideline for the Diagnosis, Evaluation, and Treatment of Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder in Children and Adolescents.” Pediatrics.
(2) NBC News. (2016). “Olympic Gold Medalist Simone Biles Talks About Her ADHD”.
(3) Entrepreneur. (2018). “8 Successful People With ADHD”.
(4) DuPaul, G. J., & Stoner, G. (2014). “ADHD in the schools: Assessment and intervention strategies.” Guilford Publications.
(5) Barkley, R. A., & Fischer, M. (2010). “The unique contribution of emotional impulsiveness to impairment in major life activities in hyperactive children as adults.” Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry.
(6) Wymbs, B. T., Pelham, W. E., Molina, B. S., & Gnagy, E. M. (2008). “Mother and adolescent reports of interparental discord among families of adolescents with and without ADHD.” Journal of abnormal child psychology.
(7) White, H. A., & Shah, P. (2006). “Uninhibited imaginations: Creativity in adults with attention-deficit/hyperactivity disorder.” Personality and Individual Differences.
(8) NIMH. (2020). “Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD): The Basics.”
(9) Faraone SV, Perlis RH, Doyle AE, Smoller JW, Goralnick JJ, Holmgren MA, Sklar P. (2005) “Molecular genetics of attention-deficit/hyperactivity disorder.” Biological Psychiatry.
(10) Linnet KM, Wisborg K, Agerbo E, Secher NJ, Thomsen PH, Henriksen TB. (2006) “Gestational age, birth weight, and the risk of hyperkinetic disorder.” Archives of Disease in Childhood.
(11) Froehlich TE, Lanphear BP, Auinger P, Hornung R, Epstein JN, Braun J, Kahn RS. (2009) “Association of tobacco and lead exposures with attention-deficit/hyperactivity disorder.” Pediatrics.
(12) Wolraich ML, Lindgren SD, Stumbo PJ, Stegink LD, Appelbaum MI, Kiritsy MC. (1994) “Effects of diets high in sucrose or aspartame on the behavior and cognitive performance of children.” The New England Journal of Medicine.
(13) Gapin JI, Labban JD, Etnier JL. (2011) “The effects of physical activity on attention deficit hyperactivity disorder symptoms: the evidence.” Preventive Medicine.
(14) Cortese S, Faraone SV, Konofal E, Lecendreux M. (2009) “Sleep in children with attention-deficit/hyperactivity disorder: meta-analysis of subjective and objective studies.” Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry.
(15) Fabiano GA, Pelham WE, Coles EK, Gnagy EM, Chronis-Tuscano A, O’Connor BC. (2009) “A meta-analysis of behavioral treatments for attention-deficit/hyperactivity disorder.” Clinical Psychology Review.
(16) Mitchell JT, Zylowska L, Kollins SH. (2015) “Mindfulness meditation training for attention-deficit/hyperactivity disorder in adulthood: current empirical support, treatment overview, and future directions.” Cognitive and Behavioral Practice
